Agar Cahaya Lestari di Langkuru


Jeszy silaturahmi ke warga Langkuru (foto: istimewa)

Jeszy silaturahmi ke warga Langkuru (foto: istimewa)

Para pembaca sekalian, kali ini tentang cerita gadis Toraja bernama Jeszy Patiri yang mendedikasikan masa mudanya di Pulau-Pulau Kecil Terluar (PPKT) Indonesia. Jeszy adalah fasilitator program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).Sebelum mengabdi di Alor, alumni Ilmu Kelautan, Universitas Hasanuddin ini adalah fasilitator serupa di Kampung Liki, Pulau Liki, Kabupaten Sarmi, Papua. Liki adalah kampung sekaligus desa dengan jumlah penduduk 271 jiwa atau hanya 66 kepala keluarga, di pelosok, nun jauh dari Kota Jayapura.

“Saya suka perjalanan ke wilayah atau pulau jauh,” kata Jeszy saat ditemui di Desa Tanjung Pasir, Kabupaten Tangerang, kala Jesszy dan belasan peserta lainnya praktik pengenalan desa untuk pembekalan fasilitator PPKT atas kerjasama KKP-ESDM, GIZ/Endev,  dan DFW pada awal April 2016. Jeszy bertugas di Dusun Mademang, Desa Langkuru, Pulau Alor, Nusatenggara Timur.  Kepada Kamaruddin Azis dari DFW, Jeszy merefleksikan realitas dan tantangan yang dirasakannya selama sebulan bertugas sebagai fasilitator PPKT di wilayah yang berbatasan Timor Leste itu untuk kita semua. Berikut ceritanya.

Alor dan Sejarah Langkuru

Kabupaten Alor mempunyai 15 pulau. Sembilanberpenghuni dan enam pulau lainnya belum. Luas daratan 2.864,64 km² sedang perairan 10.773,62 km². Panjang garis pantainya 287,1 km. Membentang dari dari utara dan paling timur dari wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 8º6’LS – 8º36’ LS dan 123º48’ BT – 125º48’ BT. Sebagai kabupaten kepulauan, Alor berbatasan Laut Flores, Selat Ombay, Selat Wetar dan perairan Republik Demokratik Timor Leste. Jaraknya dari ibukota provinsi sejauh 260 km atau 360 km dari Ende (Flores). Garis vektor dari Jakarta menunjuk angka 1.600 km ke timur.

Letak Langkuru persis di bagian timur Alor, masuk wilayah Kecamatan Pureman. Pureman sendiri merupakan kecamatan paling sedikit penduduknya di Kabupaten Alor. Tahun 2010 dilaporkan hanya berpenduduk 1,700an jiwa. Dari Langkuru, hanya butuh waktu 2 jam perjalanan dengan perahu nelayan untuk sampai ke Timor Leste.

Jeszy bersama Kadis DKP Alor, Bapak Rahmin Amahala (foto: Istimewa)

Jeszy bersama Kadis DKP Alor, Bapak Rahmin Amahala (foto: Istimewa)

Dahulu, bila cuaca cerah, di malam hari kita dapat melihat cahaya kerlap-kerlip di seberang. Di Langkuru cahaya ada juanamun tak seterang goda lampu di Timor Leste. Bagi warga, kadang ada rasa kesal apalagi jarak begitu jauh dengan ibukota Kalabahi. Belum lagi akses komunikasi yang sulit membuat suasana desa seperti bertudung susah.

“Dulu kala kampung ini dibangun oleh dua pendatang dari Timor Leste. Mereka adalah dua orang saudara,” ungkapKetua Lembaga Pemasyarakatan Desa (LPD), Imanuel Sailana(13 April 2015).

Menurut Imanual, kedua sosok itu datang ke Langkuru dengan menggunakan perahu dan keduanya membawa ayam dan kucing. Tempat tinggal mereka di gunung, namun saat pembagian wilayah, kakak mendapat wilayah gunung sementara adik yang mendapat wilayah pesisir. Imanuel Sailana ini termasuk dari keturunan sang kakak. Sehingga dia terpilih menjadi kepala suku.

“Untuk pembagian tanah, sudah dari zaman dahulu dibagi wilayah-wilayahnya jadi kepala suku yang terangkat saat ini hanya mengawasi tanah yang sudah dibagi,” terang Imanuel kepada Jeszy.

Apabila ada konflik tanah antar masyarakat di Desa Langkuru maka kepala suku yang akan meluruskan dan mengatakan tanah tersebut punya si ini dan semua akan menurut. Kalau untuk wilayah laut tidak ada pembagian wiayah, masyarakat bebas mencari. Imanuel adalah pensiunan guru. Dari Imanuel ini dapat diduga bahwa kekerabatan masih sangat kuat di Langkuru. Hukum atau tradisi adat atau kekeluargaan masih dapat menjadi harapan dalam pembangunan masyarakat ke depannya.

Untuk memenuhi kebutuhan pangan, untuk bertahan hidup, sebagian besar penduduk Langkuru bercocok tanam atau berkebun. Menangkap ikan hanyalah pekerjaan sampingan. Hasil cocok bertanam amat beragam sejak turun temurun; padi, jagung, sayur-sayuran, buah-buahan, umbi-umbian, kemiri, serta kacang mede.

“Tahun ini hasil panen mereka banyak yang rusak. Mereka menanam hanya dua tahun sekali. Tikus jadi hama tahun ini,” kata Jeszy. Jeszy melaporkan bahwa pada tahun ganjil tidak bisa bercocok tanam. Tanaman rusak dan tidak tumbuh karena terserang hama tikus. Kalau tahun genap tikus sama sekali tidak ada jadi kita bercocok tanam.  Tahun ini hasil panen tak maksimal. Hujan tak turun. Bagi warga, gagal panen berarti persediaan tahun depan akan menipis. Tak ada yang bisa dijual, hanya untuk dimakan di rumah. Ke depan, irigasi nampaknya harus menjadi pilihan membangun kehidupan pertanian dan perkebunan di Langkuru.

Langkuru mempunyai kampung pesisir bernama Mademang. Di dusun inilah ditemui beberapa nelayan. Tak banyak, tak sampai 10 orang selebihnya petani.  Kadang, ketika ikan sedang melimpah mereka juga ke laut untuk memancing. Targetnya ikan-ikan kecil.  Pernah sekali dapat bantuan 1 set alat pancing plus mesin katinting, tetapi alat pancing yang diberikan hanya untuk memancing ikan yang kecil-kecil saja. Padahal lautan mereka adalah area jalur tuna namun karena tidak ada perlengkapan untuk menangkap ikan tuna. Mereka hanya melihatnya saja.

Pasar di Desa Langkuru (foto: Jeszy Patiri)

Pasar di Desa Langkuru (foto: Jeszy Patiri)

Suasana Pesisir Langkuru

Selama berada di pesisir timur Alor, Jeszy menemui limaorang warga mengenai Permen No. 56/2014 dan No. 10/2015.  Kelima orang sedang membuat perahu di pesisir pantai, fasilitator memperkenalkan diri dan menanyakan bila nelayan tersebut mempunyai waktu untuk mengobrol sebentar berdialog.

“Hari ini tidak melaut, mereka lagi sedang membantu teman mereka membuat perahu,” kata Hajiman Salale.

“Permen KP tersebut sangat terasa manfaatnya disini, karena daerah mereka adalah wilayah perbatasan yang perairannya juga menjadi jalur kapal baik kapal Pelni maupun kapal yang lainnya, sehingga tidak menutup kemungkinan juga kapal asing juga biasa masuk di perairan tempat kita mencari ikan,” kata Hajiman. Menurut Hajiman, itu sangat mengganggu aktivitas nelayan. yang mencari disitu karena nelayan disini mencarinya ikan hanya di seputaran teluk saja, dan terkadang kapal asing itu menangkap ikan persis di depan teluk yang menjadi jalur masuknya ikan sehingga tidak ada ikan yang bisa masuk ke teluk dan kapal asing itu menggunakan pukat yang sampai dasar sehingga tidak ada ikan yang bisa masuk ke teluk.

Ucapan senada juga disampaikan oleh Gasparsam Bu’u dan Melianus Septori, keduanya nelayan setempat.

“Dulunya juga ada kapal asing yang masuk dengan peralatan pancing yang sudah modern sehingga mereka bisa menangkap banyak ikan dan mereka juga menutup jalur ikan sehingga kami harus menangkap jauh dari lokasi kami biasa menangkap,” kata Melianus.Dengan perahu dan alat tangkap yang masih tradisional kami sangat kesulitan dalam mencari ikan di perairan luar, belum lagi sebagian masyarakat disini masih menggunakan perahu layar.

Fasilitator menyapa warga, pemilik pengetahuan (foto: istimewa)

Fasilitator menyapa warga, pemilik pengetahuan (foto: istimewa)

Kapal asing dulunya bebas mencari di sekitar situ. Terkadang bila malam tiba ada beberapa kapal asing yang berlabuh ditengah laut untuk mencari ikan. Menurut penduduk di Desa Langkuru itu adalah kapal-kapal Taiwan. Tetapi karena tidak adanya batas wilayah perairan yang jelas serta tidak adanya pos-pos keamanan di desa Langkuru maka masyarakat hanya melihatnya dari jauh saja.Di lokasi yang ketiga, Jeszy bertemu dengan dua nelayan yang sedang bertransaksi dengan ibu-ibu di pesisir pantai. Mereka sedang menjual ikan hasil tangkapan mereka.

Untuk memperoleh gambaran tentang aktivitas melaut warga Langkuru, Jeszy mewawancarai warga seperti saat mewawancarai seorang nelayan bernama Theofilus (16 April 2016).

“Tangkapan saya biasanya ikan gergain, ikan kada, ikan merah, dan ikan tembang. Hasil tangkapan saya tidak menentu, jika ikan lagi banyak saya bisa mendapatkan sebanyak satu karung 50 kg, tetapi kadang juga tidak dapat apa-apa,” ungkap Theofilus.

“Perahu yang saya gunakan adalah perahu semang dengan dayung, sementara alat tangkap masih sangat sederhana. Dulu saya juga menggunakan katinting akan tetapi mesin saya lagi rusak jadi sekarang saya pakai dayung saja. Area tangkapan saya hanya seputaran sini saja, terkadang di laut saya berjumpa dengan saudara-saudara yang berasal dari Atapupu (kabupaten Atambua), tetapi saya tidak pernah bertemu dengan kapal asing,” kata Theofilus.

Theo bercerita. Hasil tangkapannyadijual di kampung. “Kalau hari pasar baru kami jual ke pasar. Karena disini tidak ada cold box dan juga es untuk mengawetkan ikan kami, jadi kami hanya menjual di desa, kadang kalau tidak habis terjual kami konsumsi sendiri atau bagi-bagi ke tetangga. Dulu kami pernah jual di Atambua, karena ke Atambua lebih dekat dibandingkan ke Kalabahi.” Ungkap Theo.

Seperti Theo, nelayan-nelayan di Langkuru masih sangat sederhana. Perahu yang mereka gunakan masih perahu semang dan dayung serta perahu katinting. Padahal laut di depan mereka merupakan laut lepas yang menjadi jalur tuna, akan tetapi karena alat tangkap biasa dan masih tradisional sehingga mereka hanya bisa menangkap di dekat-dekat pesisir saja dengan hasil tangkapan berukuran kecil-kecil.

Jarak ibukota kabupaten yang aman hanya menggunakan kapal dengan waktu tempuh sekitar enam jam, sementara jalan darat ada, tetapi masih sangat rawan untuk dilewati. Kondisi medannya sangat mengkhawatirkan. Saat ini masih sementara dalam pengerjaan jalan darat.

Berdasarkan wawancara ditemukan informasi bahwa hasil tangkapan yang didapat dijual dengan harga murah. Ikan gergain satu ekor dijual seharga Rp. 20.000, ikan merah dijual dengan harga Rp. 5.000/ekor, ikan kada dijual dengan harga Rp. 20.000/ekor sementara ikan tembang dijual dengan harga Rp. 5.000/tumpuk.

Potensi Langkuru adalah ikan tuna, modal masa depan (foto: istimewa)

Potensi Langkuru adalah ikan tuna, modal masa depan (foto: istimewa)

Butuh Cahaya

Di Langkuru terdapat dua dusun, empat RW, dan delapan RT yang jaraknya tidak dekat-dekat, Dusun 2 berada di gunung dan perjalanan dengan berjalan kaki cukup jauh. Penduduk yang masih 1 dusun hanya beda RT/RW saja jaraknya sekitar 7 km, belum jarak ke Dusun 2 sangat jauh dan akses kesana bisa ditempuh dengan menggunakan motor dan berjalan kaki, namun bila menggunakan motor juga jalannya belum begitu baik, masih bebatuan dan harus mendaki. Medan yang cukup sulit sehingga bila ada bantun yang datang untuk desa Langkuru yang menerimanya hanya Dusun 1 RT 1 dan 2 RW 1, mereka biasanya menyebutnya dengan Mademang.

“PLTS di Desa Langkuru masih dalam kondisi baik, beliau menawarkan bila ingin ke Langkuru, nanti bisa berangkat bersama dengan stafnya yang bernama Pak Yansen, karena pak Yansen ini yang berasal dari Desa Langkuru,” kata Kepala Dinas DKP Alor (6 April 2016) saat ditemui oleh Jeszy.

Dari Kalabahi, Jeszy mendengar himbauan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi, “Sampaikan kepada warga untuk tidak mengambil aliran diluar alokasi daya yang telah diberikan oleh operator karena akan terjadi kerusakan pada PLTS.” Kata Jeszy menirukan ucapan Kadis. Kadis juga mengatakan bahwa ada alokasi 20% daya untuk untuk kegiatan usaha ekonomi masyarakat produktif.

Dengan energi cahaya, sesungguhnya Pemerintah telah memberikan perhatian dan alokasi yang cukup untuk itu. Dengan energy listrik dan cahaya, warga bisa memanfaatkan malam hari untuk meningkatkan produktifitas, membantu anak-anak belajar. Listrik dan cahaya dapat pula dimanfaatkan untuk mengawetkan hasil perikanan seperti membuat es dan menyiapkan coldbox.  Ini sangat mungkin namun masih butuh waktu dan proses agar warga semakin kreatif.

Penagihan biaya PLTS (foto: Jeszy Patiri)

Penagihan biaya PLTS (foto: Jeszy Patiri)

Harapan untuk melihat cahaya semarak di Langkuru terwujud saat Pemerintah memberikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) melalui skema kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun lalu. Dampaknya jelas, kian banyak kios-kios yang menjual sembako sekaligus menjadi penampung untuk hasil pertanian masyarakat. Pipa air bersih pun terpasang meski semua itu belum lengkap tanpa telekomunikasi dan akses darat dan laut yang masih susah.

Sebelum pemasangan hingga PLTS terpasang, fasilitator sebelumnya dan petugas sudah memberitahu kalau PLTS ini untuk masyarakat sehingga masyarakat juga harus ikut bertanggungjawab menjaga PLTS ini, kapasitas baterai di ruang shelter terbatas jadi masyarakat harus menggunakannya sesuai dengan daya yang sudah diberikan oleh petugas pemasangan PLTS, jangan ada yang mengambil aliran tanpa sepengetahuan operator karena nanti baterai kelebihan kapasitas dan bisa rusak.

“Ada yang menarik, dengan adanya arahan tersebut maka dibuatkan sanksi bagi yang menambah daya tanpa sepengetahuan operator akan dikenakan denda sebesar Rp. 1.000.000.,” kata Jeszy.

Beberapa bulan terakhir, untuk memudahkan aktivitas warga terutama malam hari telah dibangun pula lampu jalan. “Namun ini tidak berlangsung lama, beberapa waktu kemudian mati total karena kotak penyimpanan data rusak. Bahkan lampu jalan yang baru pun rusak akibat petir,” kata Jeszy menirukan operator PLTS. Sebenarnya, yang terkena petir hanya beberapa lampu jalan saja, namun untuk menghindari kerusakan yang lebih parah maka operator mematikan semuanya.

Tantangan PLTS

Tanggal 14 April 2016, di rumah shelter PLTS Jeszy bertemu dengan Christian, penjaga PLTS.“PLTS masih berjalan dengan baik akan tetapi lampu jalan beberapa bulan yang lalu ada salah satu lampu jalan yang terkena petir sehingga semua lampu jalan padam, saya mau mengecek lampu jalan yang masih berfungsi dan yang tidak tetapi kalau saya sendiri saya tidak mampu. Lampu jalan sangat banyak dan tangga juga berat jadi saya belum mengeceknya sampai saat ini,” ungkap Christian.Menurutnya, tahun lalu MCBterbakar karena kelebihan daya, waktu teknisi sudah pulang banyak masyarakat yang minta tambah daya sehingga MCB terbakar.

“Setelah kami mengganti MCB semua daya dirumah penduduk sudah kami ratakan semua 450 wh, hanya gereja 900 wh,” kata Christian.

Menurut catatan Jeszy, dari perjalanan petugas PLTS yang menagih dari siang hingga pukul 22.43 WITA iuran yang terkumpul sebanyak Rp. 1.230.000 dengan jumlah pelanggan yang membayar sebanyak 39 rumah yang kapasitas daya 450 wh dan 1 gereja yang kapasitas daya 900 wh dari 115 bangunan. Namun karena lampu diruang baterai putus jadi petugas membeli 1 balon lampu LED seharga Rp. 30.000 sehingga iuran yang terkumpul sebesar Rp. 1.200.000.

Bagi Jeszy dan warga Langkuru, meskipun PLTS tetap aktif dan berfungsi, terus memberikan manfaatnya nyata untuk warga, tantangan ke depan adalah menata ulang organisasi pengelola PLTS ini sebab pengurus yang tersisa adalah hanya bendahara dan dua operator. “Yang aktif cuma operator. Nanti kita bicarakan dengan warga bagaimana baiknya,” imbuh Jeszy.

“Saat ini penerangan yang kami gunakan adalah senter solar sel yang dibagikan tiap rumah. Sebenarnya di saya sudah ada surat hibah tanah untuk lokasi PLTS di Dusun 2 tapi saya bingung mau di ajukan ke siapa?” Kata kepala desa.PLTS di Langkuru, di Dusun 1, dikelola oleh tiga orang,Kepala desa berharap ada bantuan serupa untuk Dusun 2, sebagaimana harapan warga lainnya.

Kerjabakti warga Langkuru, modal sosial yang baik (foto: Jeszy Patiri)

Kerjabakti warga Langkuru, modal sosial yang baik (foto: Jeszy Patiri)

***

Bagi kita, Jeszy dan warga Langkuru, kerlap-kerlip lampu di negeri seberang kini tak lagi menjadi biang cemburu sebab negara telah hadir, telah membantu Langkuru demi menikmati cahaya pembangunan. Ini bisa bertahan lama jika warga ikut bertanggung jawab menjaganya, minimal menyiapkan sumberdaya ketika ada bagian yang rusak dan perlu perbaikan atau mengajak pihak lain seperti pemerintah daerah untuk ikut membantu. Oleh sebab itu, sebelum rusak, warga atau para pelanggan harus memikirkan bagaimana cara menyiapkan sumberdaya atau dana cadangan untuk perbaikan ke depannya.

Ya, agar cahaya kehidupan lestari di Langkuru, warga harus mengambil inisiatif, sebab jika tidak, cahaya akan redup dan harapan untuk maju dan berkembang bisa pupus kembali. Warga Langkuru pasti tidak mau kehilangan harapan, mereka pasti bisa. Modal kekerabatan, organisasi informal, potensi perkebunan, perikanan serta pengalaman warga bertahan hidup di tanah minim air itu menjadi bukti mereka amat tangguh menantang waktu…

 

Penulis/Editor: Kamaruddin Azis