Buton Tengah Sebagai Sentra Gurita di Sulawesi Tenggara


Gurita 1

Gurita hasil tangkapan nelayan di Buton Tengah

Buton Tengah merupakan salah satu wilayah pemekaran baru di Sulawesi Tenggara. Terbentuk berdasarkan UU nomor 15/2014 tentang Pembentukan Kabupaten Buton Tengah, kabupaten berpenduduk sebanyak 119 ribu jiwa ini mempunyai potensi sumberdaya perikanan meliputi tangkap dan budidaya. Saat ini kegiatan budidaya laut yang berkembang adalah rumput laut dengan produksi 13.966 ton kering pada tahun 2014. Selain rumput laut, komoditas andalan Buton Tengah adalah gurita.

Gurita asal Buton Tengah dikirim ke Kendari untuk selanjutnya di ekspor. Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Tenggara, ekspor gurita beku pada periode Januari-Februari 2017 mencapai 71,86 ton dengan nilai 417,514 ribu dollar AS. Adapun negara tujuan ekspor adalah Amerika dan Jepang. Pemerintah Kabupaten Buton Tengah perlu menetapkan gurita sebagai salah satu komoditas andalan perikanan.

Peneliti DFW-Indonesia Subhan Usman mengatakan bahwan potensi gurita di Buton Tengah cukup besar tapi belum didukung oleh sarana dan prasarana penangkapan dan pengolahan yang memadai. “Masih dilakukan secara tradisional pada beberapa desa dan terkendala sarana pengolahan seperti cold storage mini atau ice flake” kata Subhan. Minimnya ketersediaan sarana ini tidak terlepas dari keterbatasan anggaran pemerintah Kabupaten Buton Tengah di sektor perikanan. Selain sarana dan prasarana yang terbatas, sistem pendataan produksi dan pemasaran gurita perlu diperbaiki.

Untuk mendukung dan meningkatkan nilai tambah perdagangan komoditas gurita, pemerintah Kabupaten Buton Tengah perlu membangun fasilitas Unit Penolahan Ikan (UPI). Hal ini dimaksudkan agar gurita yang diperoleh nelayan bisa langsung masuk ke tahap pengolahan. Keberadaan UPI diharapkan akan menyerap tenaga kerja bagi kaum perempuan dan ibu-ibu.

Bagi nelayan lokal, gurita kelapa merupakan jenis yang paling sering ditangkap. Periode bulan November-April merupakan masa dimana nelayan Buton Tengah bisa menangkap gurita dalam volume yang banyak. “Dalam satu tahun, hanya lima bulan nelayan Buton Tengah dapat menangkap gurita dalam jumlah yang banyak, istilah nelayan setempat musim gurita,” kata Subhan. Kalender musim secara tradisional selama ini cukup membantu nelayan dalam mengatur pola tangkap sesuai dengan musim.

Gurita 2

Gurita kelapa menjadi tangkapan dominan nelayan di Buton Tengah

Sementara itu, dinamisator DFW-Indonesia di Sulawesi Tenggara, Rivaldy mengatakan bahwa di Buton Tengah sentra nelayan gurita tersebar di tiga kecamatan yaitu Mawasangka Timur, Mawasangka dan Talaga Raya. “Ada lima desa yang selama ini terkenal sebagai nelayan penangkap gurita yaitu Desa Bonemorambe, Desa Terapung, Desa Kokoe, Desa Wulu dan Desa Talaga Besar kata Rivaldy. Pada lima desa tersebut, nelayan sudah terbiasa melakukan penangkapan gurita dengan cara tradisional. Motivasi menangkap gurita karena harga jual yang relatif tinggi. “Pada tingkat nelayan harga gurita berkisar Rp 35.000/kg, sedangkan pada tingkat pengepul harga grade A1 sesebesar Rp 55.000-66.000/kg, sedangkan grade A2 mencapai Rp 45.000-50.000/kg” kata Rivaldy.

Rivaldy mengingatkan agar pemerintah daerah Buton Tengah harus memperhatikan ekspolitasi gurita di Buton Tengah. Apalagi habitat tempat hidup gurita di perairan Buton Tengah akhir-akhir ini makin terancam dengan banyaknya aktivitas pengeboman ikan. “Melihat pola pengeksplotasian yang dilakukan nelayan dalam menangkap gurita, maka habitat dan asosiasi lingkunganya perlu menjadi bahan penting untuk di dikaji” kata Rivaldy. Hal ini dimaksudkan agar upaya eksploitasi gurita dilakukan dalam ambang batas yang dibolehkan, tidak over eksploitasi tetapi berdasarkan prinsip-prinsip keberlanjutan.