DFW Indonesia dan BPSPL Makassar Peringati Hari Bumi dengan Libatkan Siswa Sekolah Menanam Mangrove


WhatsApp Image 2018-04-24 at 18.04.51

Minggu (22/04) sebanyak 150 siswa SMK dan Sekolah Dasar memenuhi areal seluas kurang lebih setengah hektar di pantai Desa Rumba-rumba untuk melakukan penanaman mangrove. Mereka hadir sebagai bagian dari kegiatan peringatan Hari Bumi tahun 2018 yang diadakan di desa yang terletak di Kecamatan Kolono Timur, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara itu. Sebanyak 350 batang bibit mangrove ditanam dengan melibatkan masyarakat desa.

Dalam keterangannya, fasilitator DFW-Indonesia yang bertindak sebagai koordinator lapangan kegiatan, La Ode Hardiani mengatakan bahwa aksi peringatan ini merupakan bagian dari tradisi DFW Indonesia memperingati hari-hari lingkungan. “Tepat sebulan yang lalu kita gelar peringatan Hari Air di Teluk Jakarta. Acaranya bersih sampah dan juga tanam mangrove. Dan bulan September nanti, seperti tahun lalu kita akan kembali memperingati World Clean up Day,” terangnya.

Menyambung penjelasan Hardiani, koordinator kegiatan Subhan Usman menjelaskan bahwa kegiatan penanaman mangrove dipilih sebagai aksi peringatan Hari Bumi sebab relevansi kegiatan itu dengan Hari Bumi. Menurut Subhan, eksosistem mangrove memiliki setidaknya tiga fungsi, di mana semua fungsi tersebut bersifat esensial.

“Yang pertama, mangrove menempati posisi esensial dalam ekosistem laut karena mangrove memproduksi unsur hara dan jadi tempat berbiak berbagai jenis organisme,” katanya.

“Kedua, mangrove dapat mencegah abrasi dan mengurangi dampak tsunami. Dan ketiga, mangrove sangat penting dalam masalah perubahan iklim. Berbagai hasil penelitian menyatakan hutan mangrove mampu menyerap karbon penyebab pemanasan global setidaknya 5 kali dibanding kemampuan hutan tropis, karenanya dikenal pula dikenal istilah blue carbon,” tambahnya.

“Jadi bisa dibilang, isu mangrove adalah isu masa kini dan masa depan,” tambahnya lagi.

Koordinator nasional DFW-Indonesia, Mohammad Abdi Suhufan dalam keterangannya menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah hasil kerja sama organisasinya dengan Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar, yang diwakili oleh satuan kerja Kendari. Selain itu, terlibat pula Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia Sulawesi Tenggara, serta pihak pemerintah Desa Rumba-rumba.

“BPSPL Makassar menyiapkan bibit. Mereka siapkan 1000 batang, dan siap bekerja sama lebih lanjut. Sisa bibit nanti kita pakai untuk penanaman di desa lain di Teluk Kolono. Desa Awunio,” ungkapnya.

A. Muhammad Ishak Yusma, Kepala Seksi Program dan Evaluasi BPSPL Makassar saat dikonfirmasi menyatakan apresiasinya kepada setiap pihak yang melakukan insiatif yang sama. “Kerja sama seperti ini sangat kami perlukan. Kami dengan keterbatasan waktu dan tenaga membutuhkan pihak lain yang memiliki insiatif serupa,” katanya.

Menyambung keterangan Ishak, Jufri, Koordinator Satuan Kerja Kendari BPSPL Makassar yang hadir dalam kegiatan menyatakan bahwa saat ini misalnya, pihaknya masih membutuhkan kerja sama berbagai pihak untuk memanfaatkan fasilitas pencacah sampah plastik yang saat ini tersedia di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kendari.

Fasilitas itu telah tersedia sejak bulan Januari lalu, tetapi pihak koperasi pengelola fasilitas tersebut masih membutuhkan kerja sama yang lebih luas dengan berbagai stakeholders, termasuk masyarakat luas, untuk mengoptimalkan kapasitas pengolahan sampah fasilitas tersebut. Alat tersebut mampu mengolah sampah hingga 1 ton dalam sehari, sehingga kontribusi masyarakat diperlukan untuk mengotimalkan fungsi alat ini mengurangi sampah plastik.

Adapun Rasyid Rasyiki, staf program Adaptasi dan Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK), sebuah program mengenai kebencanaan dan perubahan iklim yang diselenggarakan melalui kerja sama antara USAID, KLHK, dan Bappenas, yang hadir dalam kegiatan ini menilai bahwa kegiatan bertema lingkungan dengan melibatkan generasi muda adalah tindakan yang perlu direplikasi.

WhatsApp Image 2018-04-24 at 18.06.11

Menurutnya, langkah seperti itu akan menciptakan ingatan di kalangan generasi muda, bahwa mereka pernah melakukan kegiatan seperti itu, dan bahwa mangrove penting dalam isu lingkungan. “Jadi saya kira ini adalah praktik learning by doing untuk anak-anak dan remaja,” katanya.

Acara yang melibatkan sekitar 200 orang ini, dimulai pada pukul 08:00 waktu setempat dan berlangsung selama kurang-lebih dua jam dengan melibatkan berbagai pihak selain para siswa sekolah; pemerintah kecamatan, tokoh masyarakat, dan para anggota Kelompok Siaga Bencana (KSB) Desa Rumba-rumba yang terbentuk pada September 2017 lalu melalui insiatif program kebencanaan dan perubahan iklim yang disebutkan di atas.