Gurita dan Potensi Bisnisnya


WhatsApp Image 2018-03-21 at 17.49.23

Gurita siap dipasarkan di Pulau Jemaja, Anambas (foto: Kamaruddin Azis)

Tahun lalu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melaporkan bahwa tren nilai ekspor perikanan Januari-November 2016-2017 mengalami kenaikan dengan komposisi; udang 0,53%, tuna-tongkol-cakalang 18,57%, rajungan-kepiting 29,46%, cumi-sotong-gurita 16,54%, rumput laut 23,35%, dan lainnya naik 3,61%.

Menteri Susi Pudjiastuti menyebut potensi laut Indonesia sangatlah besar sebab mempunyai laut terluas di dunia.

Luasnya laut Indonesia juga berpengaruh pada banyak dan beragamnya jumlah ikan di Indonesia yang diminati oleh negara-negara di dunia. Salah satu produk laut yang saat ini diminati oleh banyak negara adalah gurita (octopus).

“Potensi perikanan kita banyak yang lainnya bukan hanya ikan, sekarang kita menduduki ekspor nomor satu untuk gurita,” ujar Menteri Susi di Auditorium Kementerian KKP, Jakarta, Senin (12/2/2018).

Namun sayangnya lanjut Susi, potensi dan jumlah permintaan ekspor gurita yang begitu tinggi belum mampu diimbangi dengan pemanfaatan produknya secara maksimal. Hal ini tentunya harus menjadi perhatian bersama agar produk gurita bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Daerah yang berpotensi sebagai penyuplai gurita di Indonesia adalah Anambas dan Natuna. Di Natuna potensinya mendekati angka 40 ton gurita pertahun.

Mengenal Gurita

Gurita adalah biota laut yang masuk kelompok Cephalopoda yang dikenal memiliki kecerdasan tinggi. Cephalopoda adalah kelas moluska yang mencakup cumi-cumi, sotong, nautilus, dan gurita. Mereka ditandai sebagai berbentuk badan bilateral simetris, memiliki kepala, lengan, dan dalam beberapa kasus, tentakel.

Gurita bisa berkamuflase meniru lingkungan sekitarnya untuk menghindari incaran pemangsa. Bergerak dengan cara menyemburkan air layaknya mesin jet. Masih ingat ketika gurita ‘Paul the Octopus’ dijadikan sumber informasi judi piala dunia tahun 2010 lalu?

Di alam, terdapat sekitar 300 spesies gurita (Octopoda). Spesies tersebut terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Cirrina dan Incirrina. Cirrina atau gurita laut dalam memiliki dua sirip di kepala dan cangkang internal kecil.

Yang kedua adalah gurita Incirrina atau gurita bentik mencakup spesies gurita umum yang banyak dikenal dan diperjualbelikan.

Gurita kerap ditangkap untuk digunakan sebagai bahan makanan, dipelihara untuk akuarium. Gurita menjadi ekonomis karena lengan dan beberapa bagian tubuhnya bisa menjadi sumber protein.

Di beberapa negara seperti Eropa, Meksiko, terutama Jepang, gurita adalah bagian utama dari sushi, tempura, takoyaki dan akashiyaki.

Singkat cerita, gurita adalah bahan makanan ekspor sehingga memegang peranan penting juga dalam mendongkrak ekonomi masyarakat pesisir.

Di beberapa lokasi seperti Anambas, Ranai, Makassar, Sorong, belakangan ini rerata harga gurita adalah Rp. 50 ribu/ekor. Di beberapa tempat harganya malah jauh di bawah terutama yang akses lautnya terbatas seperti Nusa Tenggara atau pulau-pulau kecil terluar Indonesia.

Di pasar internasional, harga gurita bervariasi antara US$ 5-10/kilogram tergantung kualitas dan jenisnya. Dengan harga yang menggiurkan itu, maka jangan heran jika eksploitasinya juga semakin masif.

WhatsApp Image 2018-03-21 at 17.49.47

Gurita di Pasar Ikan Wanci, Wakatobi (foto: Kamaruddin Azis)

Masih Tradisional

Menurut penelusuran penulis, alat tangkap gurita bermacam-macam, ada yang menggunakan bubu, ada pula dengan pancing berikut umpan unik.

Bubu gurita serupa dengan pengoperasian bubu lainnya hanya saja dalam pengoperasian bubu gurita tidak memakai umpan. Pemasangan dan pengangkatan bubu dilakukan setiap hari di pagi hari, namun ada juga yang mengambilnya ketika dua atau tiga hari tergantung lokasi dan musim.

Nelayan di Anambas menggunakan bubu gurita di rataan terumbu pada kedalaman antara dua sampai 30 meter. Beberapa jenis tangkapan yang lazim adalah Octopus oceltus, Octopus vulgaris dan Octopus dofleins.

Selain bubu, nelayan Anambas juga menggunakan pancing dengan umpan serupa kodok dan mempunyai mata kail pada beberapa bagian. Nelayan Anambas seperti di Mubur, membeli umpan aluminium dengan harga beragam, dari harga 300 ribu hingga 500 ribu perbiji dan dapat digunakan berulang-ulang.

Tantangan

Pada beberapa jenis, setelah dibuahi, gurita betina bisa bertelur hingga sekitar 200.000 butir. Bisa lebih bisa kurang, bergantung spesies.

Dengan jumlah telur sebanyak itu maka gurita potensil untuk dibudidayakan atau setidaknya dikontrol dengan baik saat berada di alam. Dengan demikian, eksploitasi yang berlebih sedapat mungkin dihindari dengan tata kelola yang lebih baik.

Tantangan keberlangsungan hidup gurita di laut adalah predator seperti murai, ikan kerapu hingga hiu. Meski demikian, tantangan sesungguhnya adalah manusia yang semakin aktif melakukan penangkapan.

Permintaan gurita di luar negeri karena godaan kelezatannya membuat usaha penangkapannya juga semakin intensif. Diperlukan penanganan, kebijakan hingga penegakan hukum agar gurita tak dieksploitasi secara berlebihan.

Dengan penanganan yang baik, penangkapan gurita tidak boleh merusak karang, tidak boleh membongkar lubang-lubang karang yang merupakan rumah gurita. Diperlukan kebijakan yang berpihak pada alam saat permintaan di luar negeri semakin besar.

Untuk memastikan keberlanjutan pemanfaatan sumber daya hayati laut seperti gurita, setidaknya ada tiga aspek yang perlu dibenahi.

Pertama, pentingnya peningkatan pemahaman para pihak terkait perlindungan bagi ekosistem yang merupakan habitat bagi spesies seperti gurita.

Perlindungan bisa dilakukan dengan mengajak para pihak untuk mengetahui daya dukung dan persoalan yang dihadapi dalam tata kelola bisnis gurita sejauh ini serta mencari tahu gap dalam hal kembang biak dan suplainya ke pasar ekspor. Semakin banyak pihak yang terlibat semakin bagus untuk masa depan gurita.

Kedua, meningkatkan pengawasan pemanfaatan sumber daya laut terutama gurita melalui lokasi konservasi, penyiapan pilot project yang mengutamakan partisipasi masyarakat dalam penilaian daya dukung dan solusi perencanaan.

Pengawasan multipihak bisa dimulai dengan mengajak otoritas pemerintah setempat dalam menggagas pola kerjasama dan metode pemantauan.

Untuk daerah-daerah potensial seperti Kepulauan Anambas dan Natuna di Kepri, Kepulauan Selayar dan Pangkep di Sulawesi Selatan, Kepulauan Sulu, Morotai atau Halmahera di Maluku Utara hingga Mentawai dan Simeulue di Sumatera merupakan wilayah yang harus diprioritaskan.

Ketiga, meningkatkan nilai tambah produk gurita dengan memperbaiki tata kelola usaha perikanan. Salah satunya dengan menyiapkan sertfikasi produk yang merefleksikan metode, alat tangkap dan sertifikat ‘anti destructive fishing’.

 

Kamaruddin Azis, Senior Researcher DFW-Indonesia