Kelompok Siaga Bencana, Ujung Tombak Antisipasi Bencana di Teluk Kolono


Sosialisasi dan Kordinasi Kelompok Masyarakat Siaga Bencana

Sosialisasi dan Kordinasi Kelompok Masyarakat Siaga Bencana

Peran serta masyarakat dalam mengantisapi perubahan iklim dan kebencanan kini makin penting. Respon dan tanggap cepat sangat diperlukan jika terjadi situasi emergency dimasyarakat terutama dalam mengahadapi bencana. Untuk meningkatkan kapasitas Kelompok Siaga Bencana (KSB), program USAID-APIK bekerjasama dengan DFW-Indonesia memfasilitasi pembentukan dan meningkatkan kapasitas KSB Desa Awonio dan Desa Rumba-Rumba, Kecamatan Kolono, Kabupaten Konawe Selatan. Upaya peningkatan kapasitas ini bertujuan untuk memberikan wawasan dan keterampilan tentang aspek-aspek kebencanaan pada kelompok dan masyarakat. Selain itu hal ini bertujuan untuk memperkenalkan (i) konsep bencana, (ii) fenomena perubahan iklim, (ii) konsep dasar tangguh bencana, (iv) peran dan tugas anggota KSB, dan (v) penyusunan Prosedur Tanggap Darurat (PROTAP).

Karakteristik wilayah desa Awonio dan desa Rumba-Rumba sangat rentan dengan bencana hidro-meteorologi seperti banjir, kekeringan, angin puting beliung, serta ancaman bencana biologi seperti penyakit tanaman. Oleh karena itu kegiatan ini penting diberikan kepada anggota KSB dan masyarakat desa Awonio dan desa Rumba-Rumba. Sebelum kegiatan peningkatan kapasitas dilaksanakan, fasilitator DFW-Indonesia dikedua desa tersebut yaitu Laode Hardiani di Awonio dan Miswa di Rumba-Rumba terlebih dahulu telah berhasil memfasilitasi pembentukan KSB. Keberadaan kedua KSB tersebut merupakan inisiatif masyarakat yang peduli dan terpanggil menjalankan tugas kemanusiaan. “Proses pembentukan KSB desa Awonio dilakukan secara partisipatif dan musyawarah mufakat dan kekeluargaan” kata Laode Hardiani, fasilitator DFW-Indonesia di desa Awonio.

Sementara itu, menurut Kepala Desa Awonio, Arifin, mengatakan bahwa keberadaan KSB dan upaya meningkatkan kapasitas kelompok sangat penting terutama dalam kemampuan teknis anggota kelompok jika terjadi bencana di desa. “Ini proses yang sangat penting dan keberadaan KSB akan sangat membantu pemerintah desa nanti jika terjadi bencana” kata Arifin. Arifin berharap KSB yang telah terbentuk tersebut akan terus aktif meningkatkan kapasitas SDM dan kelembagaan agar betul-betul berguna jika terjadi bencana.

Pemetaan Kerentanan Bersama Kelompok Siaga Bencana

Pemetaan Kerentanan Bersama Kelompok Siaga Bencana

Dalam kesempatan yang sama, Ketua KSB Awonio Jaya, Bedu Amin mengatakan bahwa semua anggota kelompok berkomitmen untuk terus memantau perkembangan fenomena perubahan iklim yang terjadi serta potensi bencana yang kemungkinan terjadi di desa Awonio. “Walaupun dianggap sebagai wilayah yang stabil dari ancaman bencana, kami akan tetap siaga dan meningkatkan kewaspadaan terhadap situasi dan kejadian bencana” kata Bedu Amin. Bedu Amin sangat mengapresiasi kegiatan ini karena untuk pertama kalinya kelompok siaga bencana diberikan wawasan, keterampilan serta teknik-teknik tindakan pertama melakukan pertolongan dan evakuasi jika terjadi bencana. “Kegiatan ini memberi wawasan baru bagi kami anggota kelompok dan ini pasti bermanfaat dimasa yang akan datang” kata Bedu amin.

Bedu Amin juga memberikan gambaran dampak dari perubahan iklim yg dirasakan masyarakat desa Awunio. Akibat dari perubahan iklim selain memberikan ancaman bencana banjir, juga berdampak pada munculnya berbagai penyakit pada tanaman, tidak terkecuali pada tanaman perkebunan seperti penyakit busuk buah pada tanaman jambu mete dan kakao.

Pada tahun ini harapan masyarakat desa Awonio untuk memetik buah jambu mete dengan jumlah banyak akhirnya pupus karena ratusan hektar tanaman unggulan mengalami gagal panen akibat hujan yang mengguyur hingga menyebabkan bungga jambu mete menjadi rusak serta gagal mengeluarkan buah. Para petani hanya bisa pasrah. “Kami tidak tahu mau berbuat apa lagi sebab itu merupakan mata pencaharian kami” keluh Bedu Amin. Gagal panen yang dialami petani jambu mete dalam beberapa tahun belakangan ini mengakibatkan kerugian hingga puluhan juta.

Bedu Amin yang kini berusia 50 tahun, menceritakan bahwa sekitar 30 tahun yang lalu, dia menghabiskan waktu bekerja di kebun serta merasakan bagaimana ‘nikmatnya’ menjadi petani. Dulu hasil panen sangat melimpah dan menopang kehidupan keluarganya, namun akhir-akhir ini hasil panen perkebunan jauh menurun. Bankan komoditi kakao yang dulu menjadi salah satu komoditi unggulan masyarakat desa Awonio, sekarang hampir punah akibat serangan hama sehingga tanaman kakao banyak yang mati. Dari pengalaman ini itulah, Bedu Amin termotivasi untuk bergabung menjadi anggota Kelompok Siaga Bencana di desa Awonio.

Desa Awonio adalah salah satu dari 10 desa yang ada di sekitar kawasan Teluk Kolono. Desa Awonio memiliki jumlah penduduk sebesar 526 jiwa atau sekitar 142 KK. Memiliki potensi sumberdaya pertanian seperti kopra, jambu mete, kakao dan merica. Keberadaan KSB diharapkan akan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana dan perubahan iklim.

DFW-Indonesia adalah organisasi perkumpulan yang banyak melakukan upaya pendampingan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil dalam mengelola sumberdaya laut serta aktif melakukan advokasi terhadap regulasi dna kebijakan kelautan di tingkat nasional. USAID-APIK adalah program donor USAID yang membantu pemerintah Indonesia dalam mengantisipasi perubahan iklim dan ketangguhan di 3 wilayah yaitu Jawa Timur, Sulawesi Tenggara dan Maluku.