Masyarakat Teluk Kolono Mengantisipasi Perubahan Iklim


Kondisi lingkungan dan panorama alam Teluk Kolono, Konawe Selatan (DFW-Indonesia)

Kondisi lingkungan dan panorama alam Teluk Kolono, Konawe Selatan (DFW-Indonesia)

 

Ancaman dan dampak perubahan iklim kini demikian nyata dan ada di depan mata. Tidak terkecuali bagi masyarakat di pesisir dan pulau-pulau kecil.

Salah satu wilayah di Sulawesi Tenggara yang berpotensi terancam adalah kawasan Teluk Kolono, Kabupaten Konawe Selatan. Teluk Kolono prospektif berkembangan jika dikelola dengan baik karena memiliki potensi perikanan budidaya laut dan tambak,  perikanan tambak dan pertanian dengan komoditas jambu mete dan kopra.

Berdasarkan hal tersebut, DFW-Indonesia bekerjasama dan dengan dukungan program Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK)-USAID, mengimplementasikan Program Pembangunan Ketanguhan Masyarakat Terhadap Perubahan Iklim.

Progam ini dilaksanakan di tiga desa di kawasan Teluk Kolono yaitu Desa Awunio, Desa Rumba-Rumba dan Desa Batu Jaya melalui penguatan kapasitas kelembagaan masyarakat yang siaga terhadap perubahan iklim dan bencana

Koordinator Nasional DFW-Indonesia, Moh Abdi Suhufan, mengatakan bahwa program ini bertujuan untuk membangun ketangguhan masyarakat terhadap perubahan iklim melalui penyediaan data, meningkatkan kesadaran masyarakat dan menghasilkan rencana pembangunan desa yang pro dan sensitif terhadap perubahan iklim. “Program ini dilakukan secara terintegrasi dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program berbasis kelompok dan desa agar pemerintah dan masyarakat memiliki sensitivitas terhadap isu perubahan iklim dan bencana yang terjadi di lingkungan mereka” kata Abdi.

Untuk mendukung implementasi program, DFW-Indonesia menempatkan tiga orang fasilitator lapangan dan program officer di Teluk Kolono. Tim fasilitator ini akan bekerja bersama masyarakat dalam melakukan assessment dan penyusunan rencana aksi  masyarakat dengan tujuan meningatkan ketahanan ekonomi dan lingkungan terhadap perubahan iklim.

Berdasarkan hasil assessment sementara terhadap kerentanan masyarakat di tiga desa tersebut, terdapat beberapa ancaman perubahan iklim dan bencana yang berhasil diidentifikasi dan perlu diantisipasi. “Terkait ancaman perubahan iklim dan kebencanaan, terdapat dua dimensi pengukuran yaitu tingkat dampak dan tingkat probabilitas” kata Abdi.

Berdasarkan hal tersebut, maka tiga desa dalam kawasan Teluk Kolono diperkirakan akan berdampak pada terjadinya banjir, gemba bumi dan abrasi. Sementara dari aspek probabilitas berpotensi terjadi angin kencang,  gelombang tinggi dan bajir rob.

Pertemuan masyarakat dalam rangka studi tingkat kerentanan terhadap perubahan iklim dan bencana (DFW-Indonesia)

Pertemuan masyarakat dalam rangka studi tingkat kerentanan terhadap perubahan iklim dan bencana (DFW-Indonesia)

Sementara itu, Program Officer DFW-Indonesia Subhan Usman mengatakan bahwa kawasan Teluk Kolono memiliki sumberdaya perikanan dan pertanian yang membutuhkan intervensi pengelolaan yang saling mendukung antar berbagai sektor. “Teluk ini masih alami dan berpotensi dikembangkan menjadi sentra budidaya perikanan dan konservasi” kata Subhan.

Namun demikian, upaya mengoptimalkan pengelolaan Teluk Kolono menghadapi tantangaan dengan kejadian perubahan iklim yang kini mengancam aktivitas masyarakat. “Menurut pengakuan masyarakat Rumba-Rumba, sekitar lima tahun lalu Teluk Kolono pernah booming kegiatan budidaya rumput laut dan lobster, namun kemudian berhenti karena kematian yang dialami oleh lobster dan rumput laut” kata Subhan. Hal ini masih perlu dilakukan pengecekan dan penelitian lebih lanjut, apakah kejadian tersebut disebabkan oleh fenomena alam seperti kenaikan suhu air laut secara ekstrim atau karena adanya buangan limbah dari aktivitas di darat yang menyebabkan turunnya kualitas periaran Teluk Kolono.

DFW-Indonesia merupakan lembaga penerima grantee dari program APIK-USAID di Sulawesi Tenggara akan bekerjasa bersama masyarakat di tiga desa dan pemerintah Kabupaten Konawe Selatan untuk fokus membangun ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim.

Salah satu aspek yang akan menjadi fokus intervensi adalah penyusunn dokumen perencananan desa yaitu RKPDes dan APBDes agar lebih pro terhadap perubahan iklim. “Nantinya kegiatan pemberdayaan pesisir akan menjadi prioritas rencana aksi, tentunya dengan mempertimbangkan jenis usaha yang tahan terhadap perubahan iklim” kata Laode Hardiani, fasilitator DFW-Indonesia untuk program APIK-USAID yang bertugas di Desa Awunio, Kecamatan Kolono.