Mojo Memasang Ajir Mangrove


Bibit mangrove siap tanam

Bibit mangrove siap tanam (foto: Susi Rusmiati)

Desa Mojo yang termasuk ke dalam Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) adalah satu desa di Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Tahun 2016 ini, Desa Mojo menjadi salah satu lokasi pelaksanaan penanaman mangrove yang merupakan bagian dari program rehabilitasi pesisir dan penanaman vegetasi pantai. Program dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ini dalam pelaksanaannya bekerjasama dengan DFW-Indonesia. Sejumlah 54.300 bibit Rhizophora sp. telah siap ditanam pada Jumat, 23 September 2016. Program penanaman mangrove tersebut dilakukan oleh dua kelompok mangrove Desa Mojo yaitu Kelompok Bakau Lestari dan Pelita Bahari.

Dihubungi terpisah, Widya Safitri mewakili Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia mengatakan bahwa kegiatan rehabilitasi pesisir di beberapa kabuapten di Pantura Jawa saat ini telah memasuki tahap penanaman. “Beberapa lokasai telah melakukan penanaman, seperti di Desa Sawojajar, Brebes. Sementara daerah lainnya akan segera menyusul,” kata Widya. Lebih jauh, Widya menjelaskan arti penting dari program penanaman mangrove. “Program rehabilitasi pesisir dan penanaman vegetasi pantai selain memuat tujuan ekologis, juga mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakatnya dengan memanfaatkan potensi ekonomi dari keberadaan mangrove nantinya, baik itu dari segi perikanan tangkap, budidaya, maupun usaha-usaha ekonomi produktif mangrove,” pungkas Widya.

Ajir diangkut ke kapal di dermaga Desa Mojo

Ajir diangkut ke kapal di dermaga Desa Mojo (foto: Susi Rusmiati)

Program penanaman mangrove di Desa Mojo diterima baik oleh masyarakat. Mereka bergembira dengan adanya program ini, sebab sangat mebantu dalam proses rehabilitasi pesisir di desa mereka. “Penanaman mangrove Desa Mojo selain dapat memulihkan kondisi mangrove yang rusak juga dapat  mencegah abrasi”, ucap Pak Tasmani, Ketua Kelompok Bakau Lestari.

Hari Kamis (22/09/2016),  tepatnya pukul 07.00 waktu setempat, anggota Kelompok Bakau Lestari melakukan kegiatan pengangkutan dan pemasangan ajir.  Pengangkutan dan pemasangan ajir adalah bagian dari proses awal penanaman mangrove. Jumlah ajir yang diangkut oleh kelompok ini sebanyak 27.150 buah. Ajir seukuran 150 cm diangkut dari dermaga Desa Mojo melalui Sungai Comal menggunakan perahu besar berkekuatan 23 PK. Setelah perjalanan kurang lebih 15 menit, ajir tersebut dipindahkan mengggunakan perahu kecil (kapasitas empat orang) agar bisa melalui sungai yang sempit.

Pemindahan ajir dari kapal ke perahu kecil

Pemindahan ajir dari kapal ke perahu kecil (foto: Susi Rusmiati)

Sebanyak enam perahu kecil yang biasanya digunakan anggota kelompok untuk mencari ikan sudah menunggu di tepian sungai. Anggota kelompok saling bergiliran  memindahkan ajir ke perahu-perahu kecilnya. Satu persatu perahu kecil itu mengangkut ajir ke lokasi penanaman yang berkisar 10 menit perjalanan dari lokasi perahu besar menepi.

Pak Harun, anggota Kelompok Bakau Lestari mengarahkan teknis pemasangan ajir.  “Jarak tanamnya  1 x 0,5 m”, kata Pa Harun dengan lantang kepada anggota lainnya. Sebanyak sembilan orang anggota kelompok saling bergotongroyong memasang ajir dengan panduan tali 200 m yang dibentang agar ajir tersebut dapat dipasang dan tertata rapih.

Proses pemasangan ajir di lokasi penanaman

Proses pemasangan ajir di lokasi penanaman (foto: Susi Rusmiati)

“Pemasangan ajir ini selesai menjelang matahari terbenam, ya besok … sudah dipastikan selesai dan sudah bisa ditanami bibit mangrove”, jawab Pak Harun ketika ditanya lama waktu yang dibutuhkan untuk pemasangan ajir. Seolah mewakili delapan orang rekannya yang lain, Pak Harun menjelaskan bahwa lokasi penanaman ini merupakan lokasi nelayan-nelayan kecil mencari ikan. “Kami senang dengan adanya penanaman mangrove ini, karena ikan biasanya banyak kalau ada mangrovenya, tapi pola tanamnya juga harus disesuaikan, perahu kami tidak bisa lewat jika semua ditanami mangrove,” tandas Pak Harun. Semua anggota Bakau Lestari berprofesi sebagai nelayan.

Pemasangan ajir ini sangat memperhatikan akses melaut para nelayan, petunjuk teknis sebelumnya dirubah dengan variasi jarak 3 meter pada setiap lajur 20 m. “Rekan-rekan meminta diberi jalan untuk akses lewat perahu, sehingga tetap bisa mencari ikan untuk menafkahi keluarga”, kata Pak Harun. Merubah jarak tanam memang merupakan keputusan yang tepat agar tidak merugikan pihak nelayan. Hal ini juga menjadikan tujuan penanaman semakin nyata, yaitu agar mangrove lestari dan warga mendapat maanfaatnya, salah satunya dengan mencari ikan di sekitar area mangrove.

 

Susi Rusmiati

Darmadi Tariah