Perikanan Buton: Perdagangan Gurita Menurun


Pesisir Kabupaten Buton

Pesisir Kabupaten Buton

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan WPP 713 dan WPP 714 mempunyai potensi perikanan tangkap lestari sebanyak 1.431.069 ton. Kedua WPP tersebut merupakan wilayah Laut Banda dan Laut Flores yang sejak lama telah dimanfaatkan sebagai daerah fishing ground nelayan Buton.

Walaupun dikelilingi WPP dengan potensi lestari tinggi, produksi perikanan Kabupaten Buton pada tahun 2016 hanya mencapai 24.413 ribu ton. Hal ini tidak terlepas dari kondisi armada perikanan yang masih tradisional. Saat ini hanya terdapat 151 armada tuna hand line yang dioperasikan oleh nelayan Buton. Menurut data statistik perikanan Buton tahun 2016, dari 96.648 jiwa penduduk, hanya 8,9% yang berprofesi sebagai nelayan. Ada ketimpangan antara potensi, kapasitas tangkap dan sumberdaya manusia nelayan.

Menurut peneliti Destructive Fishing Watch (DFW)-Indonesia Subhan Usman, kondisi dan praktik perikanan di Buton menggambarkan adanya gap sekaligus ketidakmampuan pemerintah daerah untuk memanfaatkan keunggulan sumberdaya perikanan dalam mendukung pembangunan ekonomi daerah.

“Sejauh ini pemerintah daerah Kabupaten Buton belum melihat sektor perikanan sebagai sektor unggulan yang perlu dikembangkan untuk menopang kesejahteraan masyarakat nelayan” kata Subhan. Padahal, dengan keunggulan yang ada, butuh konsep pengembangan untuk bisa mengelola potensi perikanan, dengan dukungan pendanaan pembangunan dan tata kelola yang baik.

Subhan menyarankan agar pemerintah Kabupaten Buton perlu menetapkan pengembangkan komoditas tangkap unggulan dan komoditas pendukung. Produksi dan nilai perdagangan ikan tuna, cakalang dan tongkol perlu didukung oleh komdoitas lain seperti ikan kerapu, sunu, kakap, teripang, lola dan gurita. “Fokus ke pengembangan komoditas tangkap yang memiliki nilai ekonomi tinggi” kata Subhan.

Sementara itu fasilitator DFW-Indonesia, yang berpengalaman melakukan pendampingan masyarakat pesisir dan pulau-pulau di beberapa wilayah Indonesia, Laode Hardiani mengatakan bahwa komoditas penting yang menjadi target tangkapan nelayan Buton adalah teripang dan gurita. ‘Walaupun ada indikasi menurun, tapi penangkapan gurita oleh nelayan Buton masih sering dilakukan” kata Laode Hardiani.

Salah satu lokasi penangkapan gurita di Buton ada di Desa Wabula, Kecamatan Wabula. Desa dengan luas 12.000 ha ini memiliki wilayah laut yang dikelola dengan sistim Ombo/Sasi. Areal ombo di Desa Wabula memiliki luas 700x1500m. Wilayah ini dilindungi dengan aturan adat guna memberikan kesempatan bagi biota laut untuk tumbuh.

2

Kondsi Kampung Nelayan di Kabupaten Buton

Menurut Laode Hardiani, nelayan Wabula memiliki cara tersendiri dalam menangkap gurita yaitu dengan menggunakan pancing atau panah dengan menusuk langsug dari lubang/karang dimana gurita tersebut bersembunyi. “Musim tangkap gurita bagi nelayan Wabula dilakukan pada bulan Oktober-Januari” kata Laode. Ukuran gurita yang ditangkap nelayan Wabula rata-rata di atas 0,3 kg. Harga gurita bervariasi yaitu Rp 25.000 untuk gurita ukuran 0,3-0,5 kg, Rp 30.000 untuk ukuran  0,5-1 kg, Rp 35.000 untuk ukuran 1-1,5kg dan Rp 40.000 untuk ukuran 1,5kg. Hasil tangkapan gurita dijual ke pengumpul lokal yang ada di desa dan kemudian oleh pengumpul di jual ke Baubau. Dalam sebulan, seorang pengumpul gurita di Baubau dapat menampung 400-500 kg gurita asal Wabula. Angka ini dirasakan makin menurun setelah tahun-tahun sebelumnya bisa mencapai 1000-1500kg/sebulan.

Potret ini mereflesikan bahwa dengan pola eksploitasi yang berlebihan dan tidak adanya sistim pengelolaan perikanan gurita menyebabkan penuruann populasi gurita di wilayah Kabupaten Buton. “Sistim ombo di Wabula yang diharapkan dapat menahan laju penangkapan gurita ternyata belum cukup kuat” kata Laode Hardiani. Oleh karena masyarakat dan pemerintah desa Wabula perlu merevitalisasi sistim kelola tradisional sumberaya laut untuk lebih memberikan perlindungan bagi biota ekonomis seperti teripang, lola dan gurita.

Hal ini perlu dilakukan agar keberlangsungan hidup gurita sebagai target tangkap nelayan dapat terlindungi. “Caranya adalah dengan memperkuat implementasi sistim pengelolaan tradisional seperti ombo agar dapat memberi manfaat ekonomis, ekologis dan sosial bagi nelayan dan masyarakat desa secara keseluruhan” tutup Laode Hardiani.