Resep Baru Budidaya Rumput Laut Tanimbar


Sonya Maskikit, pembudidaya yang masih bertahan meski rumput laut banyak diserang oleh penyakit ais-ais (foto: DFW Indonesia)

Sonya Maskikit, pembudidaya yang masih bertahan meski rumput laut banyak diserang oleh penyakit ais-ais (foto: DFW Indonesia)

Hari-hari Sonya Maskikit penuh kekhawatiran. Usaha budidaya rumput laut yang dirintisnya lima tahun lalu kini kian tak pasti sejak penyakit yang disebut ais-ais menyerang. Perempuan guru dari Desa Lermatang, Kecamatan Tanimbar Selatan, Maluku Tenggara Barat itu harus lekas memanen rumput lautnya. Membiarkan tetap di tali bentangan akan membuat rencananya menangguk rupiah bakal pupus.

Kekhawatiran Sonya tak tunggal, ancaman lain, harga rumput laut yang pernah bertahta di 14 ribu kini terejerembab ke angka enam ribu. Sonya tak mundur, dia memillih bertahan bersama beberapa orang lainnya yang pernah didampingi oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) setempat bersama Inpex.

Bagi perempuan yang juga berprofesi sebagai guru SMP itu, diam berarti hanya akan kembali ke dapur yang tak akan berasap. Dia juga harus pikirkan keberlanjutan kuliah anaknya di Ambon dan tentu saja kebutuhan rumah tangga lainnya.

Sonya Maskikit menjemur rumput lautnya di atas para-para bantuan PT. Inpex Ltd (foto: DFW Indonesia)

Sonya Maskikit menjemur rumput lautnya di atas para-para bantuan PT. Inpex Ltd (foto: DFW Indonesia)

Menurut Adolop Batlayeri (57 th), warga Lermatang yang juga pembudidaya rumput laut yang masih bertahan, pengetahuan berbudidaya warga bermula di 2007 dan diperkenalkan oleh DKP dengan membawa bibit dari Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

“Dilatih oleh Dinas Kelautan dan Perikanan. Ada juga dari Inpex,” sebut Adolop terkait keahliannya berbudidaya saat ditemui di pantai Lermatang Lama di bulan September 2016.

Kini, Adolop masih mengarungkan tali-tali bentang budidaya, membiarkan area budidaya tanpa semai bibit. Untuk sementara, dia vakum karena bibit tidak ada. Ais-ais pun tetap mengancam, mengakitbatkan rumput laut memutih dan lambat laun mati.

Sekitar 15 kilometer di barat Desa Lermatang, tepatnya di Desa Latdalam, Ulis Batmanlusy mengaku bahwa DKP juga telah memberikan perhatian dan dukungan pada usaha rumput laut ini. Bantuan sarana prasarana dan pelatihan teknis dan pengolahan hasilpun telah dilaksanakan hanya saja, animo kembali turun karena dua alasan, harga jatuh dan banyak bibit mati yang berdampak pada keterbatasan bibit.

Suasana perkampungan Lermatang Lama pada tanggal 14 Agustus 2016 (foto: DFW Indonesia)

Suasana perkampungan Lermatang Lama pada tanggal 14 Agustus 2016 (foto: DFW Indonesia)

Di mata Ulis, perairan Pantai Luskei adalah titik yang menjadi lokasi budidaya warga Latdalam. Selain Ulis, Cornelius, salah seorang tokoh pemuda gereja yang juga menggeluti usaha budidaya rumput laut ini menyampaikan ketertarikan dan pengalamannya mengembangkan produksi rumput laut yang ada di Latdalam, terutama di Luskei.

“Di Latdalam, tidak kurang ada 20 warga yang punya lokasi budidaya rumput laut. Jika ada dukungan dari pemerintah dan pihak lainnya tentu akan sangat bagus,” kata Cornelius saat ditemui di rumah Kepala Desa Latdalam, Azet Batmanlusy.

Menurut Nasruddin, manajer lapangan Sentra Pengembangan Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang ditempatkan di Kota Saumlaki, hal lain yang mempengaruhi semangat berbudidaya warga adalah terbatasnya akses dan waktu tempuh dari Saumlaki ke pusat-pusat bisnis seperti Ambon, Makassar, Surabaya hingga Jakarta.

“Itu salah satu sebab mengapa harga jatuh, mungkin akan berbeda jika ada intervensi teknik budidaya baru atau jalur pasar yang pasti dan kompetitif,” katanya. Di pemantauan Nas, begitu ia dipanggil, gairah warga untuk kembali menanam rumput laut melemah sebab ada aktivitas lain yang lebih menggiurkan dan ekonomis yaitu menambang pasir pantai.

Suasana Desa Latdalam (foto: Kamaruddin Azis)

Suasana Desa Latdalam (foto: Kamaruddin Azis)

Resep Baru

DFW Indonesia, sebagai salah satu organisasi masyarakat sipil yang telah 15 tahun lebih berkecimpung di pemberdayaan dan advokasi masyarakat pesisir melihat peluang besar untuk mengembangkan budidaya rumput laut di Maluku Tenggara Barat. Potensi itu memantik ide untuk memberikan resep pencegahan penyakit ais-ais dan perbaikan produksi dan nilai jual rumput laut di kedua desa potensial tersebut.

“Tidak boleh tidak, pengecekan aspek oseanografi, aplikasi dan prosedur budidaya yang baik, kemampuan manajerial pembudidaya dan pemasaran rumput laut harus dibenahi,” kata Muhammad Abdi Suhufan, Koordinator Nasional DFW Indonesia kala mendapat lampu hijau kerjasama pendampingan dengan Inpex Corporation, salah satu perusahaan yang sejak 2013 telah berinvestasi sosial di Maluku Tenggara Barat.

Menurut Abdi, pendampingan yang dimaksud adalah fasilitasi penguatan kapasitas pembudidaya dan penjajakan akses pasar yang lebih baik dan ekonomis. “Kami melihat peluang besar, meski saat ini animo berbudidaya sedang drop. Yang kita lakukan menyiapkan strategi pengembangan dengan memperkuat kapasitas kelembagaan, penguatan sistem nilai baik dalam diri anggota atau warga, kelompok dan sistem sosial ekonomi di desa-desa potensial seperti Lermatang dan Latdalam, bahkan termasuk desa-desa lainnya jika model ini berjalan baik,” papar Abdi.

“Pengalaman Inpex merupakan pelajaran penting untuk melihat sisi mana yang masih harus dipoles dalam pengembangan rumput laut ini. Kami yakin pasti ada titik temu antara harapan DFW dan Inpex serta kebutuhan masyarakat,” tambahnya.

Untuk itu, DFW menempatkan fasilitator pendampingan di dua desa, yaitu Leramatang dan Latdalam, Kecamatan Tanimbar Selatan. Seperti kata Abdi, fokusnya pada penyiapan kelompok masyarakat melalui penjajakan kapasitas berusaha individu, penguatan kapasitas kelompok hingga menelisik relasinya dengan sistem pasar domestik dan regional.

“Dalam jangka pendek, harapannya adalah lahirnya rencana aksi yang dikonfirmasi dengan baik bersama warga, bersama yang berminat sungguh-sungguh, identifikasi kegiatan yang terkait kapasitas tersedia dan secara perlahan menguatkan kapasitas kelembagaan, kemitraan dan pemasaran produk rumput laut. Bahkan termasuk pengolahan rumput laut menjadi bahan pangan lokal jika warga menunjukkan antusiasme,” sebut Abdi.

Suasana di pesisir Desa Latdalam, 16/08/2016 (foto: DFW)

Suasana di pesisir Desa Latdalam, 16/08/2016 (foto: DFW Indonesia)

Mengapa Rumput Laut?

Apa yang ditawarkan DFW dan Inpex ini merupakan hal niscaya mengingat permintaan rumput laut pasar dunia ke Indonesia setiap tahunnya cenderung meningkat, mencapai rata – rata 21,8% dari kebutuhan dunia. Menurut laporan DFW, sekarang ini pemenuhan untuk memasok permintaan tersebut masih sangat kurang, yaitu hanya berkisar 13,1%. Rendahnya pasokan dari Indonesia disebabkan karena budidaya yang kurang baik dan kurangnya informasi tentang potensi rumput laut dan transformasi teknologi dan manajemen usaha kepada para petani.

Alasan kedua adalah adanya kebijakan pemerintah daerah Maluku Tenggara Barat yang menempatkan rumput laut sebagai prioritas puncak dalam pengembangan potensi sumber daya pesisir. Hal ini dapat dilihat dari strategi peningkatan aksesibilitas perencanaan dan pelaksanaan pembangunan daerah di MTB yang diplot pada wilayah pengembangan yaitu, Wilayah Pengembangan I yang meliputi Kecamatan Tanimbar Selatan, Selaru, Wermaktian, Wertamrian, dan Kormomolin yang berpusat di Kota Saumlaki; Wilayah Pengembangan II yang meliputi Kecamatan Tanimbar Utara, Yaru, Nirunmas, Wuarlabobar, dan Molu Maru yang berpusat di Kota Larat.

Alasan ketiga adalah adanya akses transportasi yang semakin terbuka sehingga peluang pasar sangat terbuka dan relevan dengan informasi bahwa masih ada warga yang menjalankan budidaya rumput laut meskipun banyak tantangan yang dihadapi seperti harga, penyakit dan kompetisi usaha di desa pesisir.

Sebagaimana diketahui bahwa di MTB, rumput laut (jenis Euchema cottoni) telah lama menjadi komoditas unggulan yang dapat meningkatkan PAD hingga tahun 2011, produksi rumput laut basah mencapai 29.625 ton, sedangkan produksi kering mencapai 3.703 ton.

Kegiatan budidaya rumput laut tersebut telah mampu merekrut tenaga kerja sebanyak tidak kurang 11ribu orang dan berpotensi menjadi alternatif usaha skala besar di MTB (DKP, 2012). Inilah yang akan digenjot di tengah tantangan aspek teknis, penyakit dan pemasaran yang tak efektif.

***

Pengalaman Sonya dan Adolop serta informasi Ulis dan Cornelius di Latdalam merupakan informasi awal yang bisa dianalisis bersama mereka tentang realitas usaha budidaya rumput laut di Lermatang dan Latdalam. Ini pulalah yang difasilitasi oleh tim kerja DFW melalui penyiapan data dan informasi berkaitan dimensi budidaya rumput laut di kedua desa.

Program manager DFW untuk program kerjasama dengan Inpex, Subhan Usman mengatakan bahwa sejak mulai memfasilitasi kedua desa tersebut telah dilaksanakan serangkaian konsultasi dengan Pemerintah Kabupaten hingga pembudidaya. Luarannya adalah adanya peta kapasitas sosial dan profil kelompok yang telah menyatakan bersedia menjadi bagian dari program ini. Di tingkat desa, fasilitator DFW, Imam Trihatmaja mulai intens membangun komunikasi dengan para pembudidaya di Lermatang dan Latdalam.

“Ada dua kelompok di Desa Lermatang dan satu kelompok di Desa Latdalam siap menjadi mitra dalam kegiatan pendampingan ini. Sonya dan Adolop akan menjadi ketua kelompok di Lermatang serta Cornelius di Desa Latdalam. Resep usaha sudah siap dan sekarang mereka bersiap mencari bibit untuk mulai menanam lagi,” pungkas Subhan.