
Penulis : Ayu Rikza, Rusda Khoiruz Zaman
Tebal : 250+ halaman
Ukuran : 15,5 x 23 cm
Kertas Isi : Bookpaper
Sampul : Soft doff
ISBN : Masih Dalam Proses
Versi Ebook : —
Kategori : Social, Etnography
Tahun terbit : 2026
Penerbit : Destructive Fishing Watch Indonesia
Deskripsi
Sejak dekade 1990-an, Indonesia telah menjadi negara produsen yang memimpin pasar global untuk komoditas ikan tangkapan. Pada 2012, Indonesia bahkan tercatat menjadi produsen tuna nomor wahid mengalahkan Jepang. Sayangnya, di balik pencapaian tersebut, perhatian pada laut sebagai ruang ekonomi-politik tampak hanya terbatas pada ikan sebagai komoditas yang unggul dalam statistik produksi dan melupakan para pekerjanya. Melalui Gelem Iwake Emoh Kuline atau “mau ikannya, tidak mau pekerjanya,” para penulis berusaha menggugat aktor-aktor negara, pemilik modal, dan pasar yang secara sadar berpaling muka dari nasib para kuli atau nelayan-buruh yang bertaruh nyawa dalam kondisi kerja kompleks, berbahaya, dan bahkan mematikan di laut.
Karya ini ditulis dari penelitian etnografi kolaboratif antara para peneliti dan para anak buah kapal perikanan yang akan membawa pembaca masuk ke pelabuhan-pelabuhan, tinggal bersama para nelayan-buruh di mess mereka, dan naik ke dek-dek kapal perikanan industri. Narasi yang disusun akan menghadirkan realitas yang dihadapi para nelayan-buruh ke hadapan pembaca tentang bagaimana rezim perburuhan yang brutal menempatkan tubuh nelayan-buruh sebagai sekadar instrumen ekstraksi nilai lebih yang dapat dibuang begitu saja. Analisis mikro dan makro mengenai bekerjanya sistem kapitalisme perikanan juga akan dihadirkan lewat perbandingan rezim kerja seturut jenis alat tangkapnya dan kasus-kasus yang ditemui di pelabuhan-pelabuhan utama Indonesia.
Buku yang hadir di hadapan pembaca ini adalah rujukan krusial dalam wacana kapitalisme agraria maritim. Kejelian dan keberanian buku ini dalam mengupas helai demi helai lapis eksploitasi di sektor produksi perikanan tangkap adalah kontribusi penting untuk melampaui narasi gerakan antiperbudakan dan kerja paksa yang seringkali menyederhanakan kompleksitas di lapangan. Pada akhirnya, karya ini adalah sebuah undangan sekaligus seruan untuk memanusiakan kembali para kuli di balik sepotong ikan yang hadir di meja makan kita setiap hari.



