Benoa, 12 Desember 2025 — Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia bekerja sama dengan Pusat Pelatihan Kelautan dan Perikanan (BPPSDM Puslat KP) Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan Banyuwangi (BPPP) Banyuwangi menyelenggarakan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pekerja Pembekuan Ikan Tuna. Kegiatan ini akan dilaksanakan selama 10-12 Desember di Aula Kesatuan Pelaut dan Pekerja Perikanan Indonesia (KP3I), Pelabuhan Benoa, Bali. DFW Indonesia menggandeng BPPSDM Puslat KP untuk menjawab kebutuhan di tingkat pelaku usaha dengan merancang kurikulum pelatihan ini melalui Training Needs Assessment. Kurikulum ini dibuat dengan tujuan agar pelatihan yang diselenggarakan bisa berdasarkan data dan kebutuhan riil di lapangan.
Mohamad Abdi Suhufan, Tenaga Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan menyampaikan bahwa pelatihan ini diharapkan bisa menjadi katalisator untuk peningkatan kualitas produksi ikan tuna.
“Semoga pelatihan ini dapat menjadi katalisator utama untuk peningkatan standar mutu ikan hasil pengolahan ikan, sekaligus mengangkat kompetensi dan kesejahteraan para pekerja perikanan. Disamping itu, untuk memastikan keberhasilan dari pelatihan ini, maka perlu adanya mekanisme feedback dua arah yang terbuka dan kritis antara peserta dan pengajar. Mekanisme keterbukaan ini adalah jaminan bahwa pelatihan ini akan terus relevan dan tepat sasaran.”
Pelatihan diikuti oleh 29 pekerja dari 13 perusahaan pengolahan ikan tuna yang beroperasi di kawasan Benoa. Para peserta yang hadir memiliki latar belakang yg berbeda antara lain: 18 orang lulusan SMA/SMK, 7 orang lulusan D3/D4, dan 3 orang lulusan S1, 1 orang lulusan SMP. Program tersebut mendapatkan dukungan dari KP3I dan Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI), serta dirancang sebagai sarana penjangkauan langsung kepada pekerja pengolahan tuna sekaligus ujicoba kurikulum dan modul pelatihan pembekuan tuna bagi pekerja pengolahan ikan. Ke depan, model pelatihan serupa direncanakan untuk direplikasi di sejumlah wilayah sentra industri perikanan lainnya seperti Muara Baru, Jakarta Utara dan Bitung, Sulawesi Utara.
Lilly Aprilya Pregiwati, Kepala Pusat Pelatihan Kelautan dan Perikanan (Puslat KP) menyampaikan bahwa pelatihan ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus validasi atas keterampilan yang telah dimiliki pekerja pengolahan tuna di Benoa. Ia juga mengapresiasi perusahaan-perusahaan yang memberikan izin dan dukungan penuh kepada pekerjanya untuk mengikuti pelatihan selama tiga hari. Selain itu, ia juga melihat pelatihan tersebut sebagai ruang untuk melihat keterkaitan antara pengalaman kerja dengan penguasaan keterampilan teknis pengolahan tuna.
“Pekerja yang ikut pelatihan atas dasar izin perusahaan. Artinya, perusahaan memberikan dukungan penuh dalam pelaksanaan pelatihan ini. Sertifikasi pelatihan ini kami harapkan bukan hanya menjadi validasi kemampuan teman-teman tapi juga menjadi bargaining teman-teman untuk bisa meningkatkan daya tawarnya kedepan, barangkali nanti tidak hanya berhenti menjadi operator atau quality control, tapi bisa naik ke jenjang karir selanjutnya atau bahkan meningkatkan ragamnya kedepan,” ujarnya.
Selain itu, pelatihan ini merupakan pelatihan pengolahan ikan tuna pertama di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Imam Trihatmadja, Direktur Program DFW Indonesia.
“Hari ini merupakan momen dimana pelaksanaan pelatihan pengolahan ikan tuna kita lakukan di Indonesia. Kehadiran rekan-rekan disini merupakan sebuah kehormatan karena Anda telah menjadi bagian dari angkatan pertama dalam pelatihan ini. Semoga agenda ini bisa tidak dilaksanakan satu kali saja, tetapi seterusnya di berbagai titik di Indonesia,” terang Imam.
Apresiasi juga disampaikan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Bali yang diwakili oleh Wirawan selaku Kepala Bidang Penyuluhan Perikanan, Pemasaran, dan Pengolahan Hasil Perikanan (P2HP). DKP merasa bahwa pelatihan ini membuka ruang peningkatan kapasitas bagi pekerja pengolahan tuna di Benoa. Disisi lain, kegiatan ini diharapkan menjadi dorongan bagi pekerja untuk memperkuat posisi mereka di perusahaan melalui peningkatan keterampilan dan sertifikasi.
Dukungan serupa juga dilayangkan oleh Dwi Agus Siswa Putra selaku Sekretaris KP3I. Ia menilai pelatihan ini merupakan gebrakan baru khususnya bagi industri pengolahan tuna. “Sejak 1994 berkecimpung di dunia pengolahan ikan di Benoa, pemerintah seringkali hanya memberikan perhatian hanya kepada pengusaha, bukan kepada pekerja. Untuk itu, saya sangat berterima kasih sekali kepada seluruh pihak yang bekerjasama dalam kegiatan ini sudah mau masuk perhatiannya ke Pelabuhan Benoa,” ucapnya.
Selama pelatihan, peserta dibekali kurikulum yang disusun khusus untuk meningkatkan kapasitas teknis dan pemahaman kerja, meliputi sanitasi dan higienis, kesehatan dan keselamatan kerja, penerimaan bahan baku, produksi tuna beku, hingga pengemasan. Para peserta juga mendapatkan pengenalan terhadap platform National Fishers Center (NFC) Indonesia yang selama ini berfungsi sebagai sarana edukasi bagi pekerja perikanan.
Pasca-pelatihan, peserta dijadwalkan mengikuti ujian sertifikasi sebagai bentuk pengakuan resmi atas kompetensi yang telah diperoleh, khususnya bidang pembekuan tuna. Sertifikasi tersebut diharapkan dapat menjadi bukti valid atas keahlian pekerja serta memperkuat posisi mereka dalam rantai industri pengolahan ikan.
DFW Indonesia berharap pilot pelatihan ini dapat menghasilkan masukan dan saran baik dari peserta maupun pihak terkait yang telah bekerja sama sehingga menjadi evaluasi kedepannya. Lebih jauh, pelatihan ini diharapkan mampu mendorong kesadaran bersama baik di tingkat pekerja maupun perusahaan terhadap pentingnya peningkatan kapasitas tenaga kerja untuk menciptakan nilai tambah dan daya saing produk perikanan Indonesia di pasar internasional.



