Pekerja Pengolahan Tuna di Benoa Mendapatkan Sertifikat Kompetensi Pembekuan Ikan Tuna

Benoa, 6 Agustus 2026 — Sebanyak 25 pekerja dari 11 perusahaan pengolahan tuna di Benoa, Bali, mengikuti Uji Kompetensi Operator Pembekuan Ikan Tuna yang diselenggarakan Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia bersama Pusat Pelatihan Kelautan dan Perikanan (Puslat KP), Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan Banyuwangi (BPPP Banyuwangi), serta Pusat Standardisasi dan Sertifikasi SDM Kelautan dan Perikanan.

Kegiatan yang berlangsung pada 4–6 Agustus 2026 di Kantor Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI) dan PT Intimas Surya, Benoa, Bali, merupakan tindak lanjut Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pekerja Pembekuan Ikan Tuna pada Desember 2025. Uji kompetensi ini sekaligus menjadi penerapan pertama Skema Sertifikasi Okupasi Operator Pembekuan Tuna yang diterbitkan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) pada Juni 2026.

Direktur Program DFW Indonesia, Imam Trihatmadja, mengatakan sertifikasi memberikan pengakuan formal terhadap keahlian pekerja yang selama ini berperan dalam proses pengolahan tuna serta memperkuat posisi daya tawar mereka dalam rantai industri pengolahan tuna. 

“Sertifikasi ini memberi pengakuan yang lebih kuat terhadap keterampilan pekerja pembekuan tuna. Kami berharap pengakuan tersebut dapat memperkuat posisi tawar pekerja dalam industri sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun perlindungan pekerja perikanan yang lebih baik,” ujar Imam.

Para peserta berasal dari PT Satu Enam Delapan, PT Indotama Bahari, PT Bali Mina Utama, PT Bandar Nelayan, PT Sari Segar Laut Indonesia, PT Perintis Jaya Internasional, PT Hatindo Makmur, PT Bintang Jaya Kota Mandiri, PT Bali Nusa Windumas, PT Iambeu, dan PT Intimas Surya.

Uji kompetensi dilakukan melalui tes tertulis, tanya jawab, dan praktik dengan mengacu pada Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 78 Tahun 2016 tentang Penetapan SKKNI Kategori Industri Pengolahan Golongan Pokok Industri Makanan Bidang Pembekuan Ikan Tuna. Delapan unit kompetensi yang diujikan mencakup K3, penerimaan bahan baku, pencucian, penyimpanan sementara (chilling), butchering, penyimpanan produk di chilling room, pembekuan, dan pengemasan.Kepala Pusat Pelatihan Kelautan dan Perikanan, Joni Haryadi D., mengatakan pengembangan kompetensi perlu menjangkau seluruh bagian dari rantai industri perikanan, termasuk pekerja pengolahan di darat. Ia juga menambahkan bahwa kerja sama dengan DFW Indonesia menunjukkan bahwa pengembangan SDM perikanan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah, organisasi masyarakat sipil, lembaga sertifikasi, dan pelaku usaha. Kolaborasi tersebut diharapkan membangun ekosistem pengembangan SDM yang tidak berhenti pada pelatihan, tetapi berlanjut hingga sertifikasi dan diterapkan dalam proses kerja nyata.

“Kompetensi pekerja pengolahan tuna tidak cukup dibangun melalui pelatihan, tetapi perlu dibuktikan dan diakui melalui sertifikasi yang kredibel. Kami ingin memastikan bahwa pekerja di seluruh rantai usaha perikanan memiliki kesempatan yang sama untuk meningkatkan kapasitas  dan memperoleh pengakuan atas keahlian mereka. Namun yang ingin kami bangun bukan sekadar pekerja yang telah mengikuti pelatihan atau memiliki sertifikat, tetapi SDM yang benar-benar kompeten, mampu memenuhi standar kerja, dan dapat menjawab kebutuhan industri. Dengan begitu, peningkatan kapasitas pekerja juga berkontribusi langsung pada kualitas dan daya saing produk perikanan,” terang Joni.

Hal senada juga disampaikan Kepala Pusat Standardisasi dan Sertifikasi SDM Kelautan dan Perikanan, A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, menyoroti pentingnya memastikan sertifikasi memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan industri.

“Pelaksanaan sertifikasi kompetensi Operator Pembekuan Ikan Tuna merupakan upaya memastikan SDM industri memiliki kompetensi yang terukur dan diakui, sekaligus mendukung konsistensi mutu produk. Ke depan, sertifikasi harus semakin terintegrasi dengan proses kerja nyata di industri, sehingga tidak sekadar menghasilkan sertifikat, tetapi benar-benar memberikan nilai tambah bagi perusahaan serta memperkuat daya saing produk perikanan Indonesia,” ujarnya.

Dukungan terhadap pelaksanaan uji kompetensi juga disampaikan pemilik PT Intimas Surya, Ivan Hans Jorgih. Menurutnya, peningkatan kapasitas pekerja merupakan investasi sumber daya manusia yang penting bagi keberlanjutan usaha pengolahan tuna.

“Kami menyambut baik kegiatan ini dan membuka ruang produksi kami sebagai tempat uji kompetensi, karena kami percaya pekerja yang kompeten dan terlatih akan turut mendorong kualitas dan daya saing produk kami di pasar internasional,” ujar Ivan.

DFW Indonesia berharap pelaksanaan uji kompetensi ini dapat menjadi langkah berkelanjutan dalam memperkuat kapasitas dan perlindungan pekerja pengolahan tuna di Indonesia. Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong kesadaran bersama, baik di tingkat pekerja maupun perusahaan, akan pentingnya peningkatan kapasitas tenaga kerja untuk menciptakan nilai tambah dan daya saing produk perikanan Indonesia di pasar internasional.

Baca juga : Tingkatkan Kapasitas Pekerja Pengolah Ikan Tuna, DFW Indonesia Laksanakan Pilot Program Pelatihan untuk Pekerja di Benoa, Bali

Baca juga : KKP perkuat kompetensi pekerja pembekuan tuna agar ekspor kompetitif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mari tetap terhubung dengan kami

Kamu Tertarik Dengan kagiatan Kami?

Dukung kami untuk bisa terus berdampak melalui merchandise berikut: